Sate Kelinci Dan Kasyatnya

Posted on
Daging Kelinci-yang rasanya gurih itu pun belakangan diolah menjadi banyak sekali jenis masakan. Mulai dari masakan tradisional macam rawon dan gulai. Masakan internasional juga ada, menyerupai kelinci goreng tepung (mirip fried chicken), kelinci BBQ (barbeque) alias kelinci panggang, dan burger daging kelinci. Kecuali bisa diolah menjadi aneka hidangan yang mengundang selera, daging kelinci pun lebih unggul ketimbang daging ayam, sapi, atau domba. Daging kelinci mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, sementara lemak dan kolesterolnya jauh lebih rendah. Tak heran, peminat daging kelinci terus meningkat, padahal pasokannya masih jauh dari cukup.
Dagingnya Empuk dan Manis
DAGING sate kelinci biasanya diambil dari kelinci siap potong yang berusia antara 4-6 bulan. Dipilihnya kelinci usia itu, lantaran rasa dagingnya empuk dan manis. Biasanya dari satu kelinci yang gemuk sanggup diperoleh 60-90 tusuk sate. Sementara sisanya yang berupa penggalan daging dan tulang-tulangnya biasanya dijadikan materi gulai.
Dalam penyajiannya, sate kelinci tak ubahnya sate lainnya. Bumbunya pun sama yaitu terdiri atas bumbu kacang bercampur irisan bawang dan kecap manis, plus jeruk nipis. Di Warung Bedjo satu porsi sate kelinci yang terdiri dari 10 tusuk dihargai Rp. 9.000 sudah termasuk nasi atau lontong siap santap.
Dapat Sembuhkan Asma
SELAIN dagingnya yang cukup banyak digemari orang sebagai materi sate atau gulai, ternyata daging kelinci juga cukup mujarab sebagai obat asma. Khasiat ini sudah dibuktikan secara ilmiah oleh mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang terdiri dari Dian Kesuma. Bahkan berkat keberhasilannya menemukan obat asma itu, mereka dinobatkan sebagai juara nasional dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang digelar di Solo beberapa waktu lalu.
Menurut Dian Kesuma, hasil penelitian tersebut bermula dari pengalaman pribadinya, yang semenjak SD mengidap penyakit asma. Karena asma yang diidapnya itu, setiap kena abu atau asap ia pribadi bersin dan batuk-batuk, dan disertai napas sesak. Kala itu, ia disarankan banyak-banyak makan daging kelinci. Setelah rajin mengonsumsi daging kelinci selama hampir satu tahun, penyakit yang dideritanya pun sembuh hingga sekarang.
Selain sebagai obat asma, mengonsumsi daging kelinci juga sanggup menyembuhkan radang tenggorokan (esopagus). Untuk yang satu ini merupakan hasil penelitian MJ. Naya dalam jurnal terbitan Spanyol.
Rahasia kesembuhan lewat daging kelinci ini, berdasarkan perkiraan Dian Kesuma dkk adalah, lantaran daging kelinci mengandung senyawa kitotefin dan zat-zat lain menyerupai asam lemak omega tiga dan omega sembilan yang bisa menyembuhkan penyakit asma.
Secara teknis berdasarkan Dian, daging kelinci itu bisa menstabilkan membran sel mastosit. Asma, itu terjadi lantaran alergi. Daging kelinci itu bisa merangsang terbentuknya antibodi pada tubuh. Antibodi itu jika menempel pada sel mastorit, memberannya bisa pecah. Kalau sudah pecah, yang bisa membentuk otot-otot polos akses napas berkontraksi. Akibatnya, akses napas menyempit sehingga terjadi asma. Asam lemak omega tiga dan sembilan cara kerjanya sama. Makanya, daging kelinci itu bisa menyembuhkan dan mencegah penyakit asma jika dimakan secara rutin. Hanya saja, dalam pengolahan daging kelinci sebagai obat itu perlu mendapat perhatian. Kalau tidak, kadar kitotefinnya bisa hilang. Oleh lantaran itu, dianjurkan jangan terlalu panas dalam memasak daging kelinci semoga kitotefin itu tetap baik, memasaknya jangan hingga melebihi 150 derajat celcius. Jadi, ingin tau kan untuk mencobanya…?